Senin, 26 Maret 2018

Penanganan Studi Kasus Public Relation


Kasus 1
uBadrun, mhs kom UB, sedang kerja magang di Hotel Savanah (HS) Malang. Badrun mendapat tugas dari Manajer PR HS untuk melakukan monitoring terhadap pemberitaan surat kabar. Badrun diminta melakukan: (a) klipping opini pembaca yang dimuat di surat kabar tentang HS; (b) analisis berita-berita surat kabar di rubrik seputar Malang, untuk mengetahui tema-tema beritanya. Mendapat tugas itu, Badrun bertanya-tanya dalam hati: “Untuk apa saya melakukan klipping? Untuk apa tema-tema pemberitaan selama 3 bulan harus saya pantau?”

Tugas Mahasiswa:
Bantulah si Badrun untuk menjawab pertanyaannya. Gunakan landasan teoritis untuk argument anda


Pada dasarnya manusia manusia merupakan makhluk sosial yang saling berhubungan dan membutuhkan satu dengan lainnya, hal tersebut lah yang mendasari esensi dari teori sistem. Karna, pada dasarnya, teori sistem memfokuskan perhatian untuk memahami bagaimana kualitas fungsi yang dijalankan setiap sistem dalam suatu relasi dinamis dengan sistem-sistem lainnya (Kriyantono, 2014: 77). Dengan kata lain, teori sistem mengatakan bahwa hal yang penting dari teori ini adalah hubungan sosialnya. Hubungan sosial yang baik merupakan hasil (output) dari suatu interaksi sosial yang dalam hal ini adalah interaksi antara organisasi dengan publiknya. Kriyantono (2014: 77) mengatakan bahwa apabila sistem ini diterapkan, maka prinsip pokok yang berlaku yaitu organisasi merupakan salah satu bagian (subsistem) dari suatu sistem sosial yang lebih kompleks, karenanya saling berhubungan, saling tergantung, dan saling memengaruhi satu sama lainnya. Oleh karena itu, menjalin hubungan dalam organisasi merupakan suatu hal yang harus diperhatikan dan harus diterapkan. Sebagai suatu sistem, organisasi juga harus memiliki karakteristik yang dimiliki setip sistem sosial meurut Kriyantono (2014: 79), yaitu keseluruhan dan saling bergantung (whoeleness and interdependece), hierarki (hierarchy), peraturan sendiri dan kontrol (self-regulation and control), pertukaran dengan lingkungan (interchange with the environment), keseimbangan (balance), perubahan dan kemampuan adaptasi (change and adaptability), dan sama tujuan (equifinality). Untuk menjawab pertanyaan Badrun, sebagai sosok public relation dimana seorang PR itu sendiri perlu aware dan memiliki landansan utama dalam setiap langkahnya yang mana hal tersebut adaah informasi, segala informasi dari klipping yang sudah Badrun lakukan merupakan langkah awal Badrun untuk menentukan kemana arah perusaan itu harus mengarah berdasarkan hasil-hasil yang sudah Badrun kumpulkan dan tentunya dengan landasan teori yang sudah terdapat pada hakikatnya.

 kasus 2.

uSeorang wartawan melakukan wawancara dengan humas UB tentang terjadinya suatu kebijakan. UB membuat kebijakan baru, yaitu melarang mahasiswa merokok di areal kampus UB. Saat ditanya wartawan, humas UB menjawab: “Saya belum bisa memberikan jawaban sekarang.. Sy mesti meminta izin dulu ke pimpinan”.

uTugas anda:
efektifkah jawaban humas itu dalam konteks publisitas media? Mengapa?”
Berfungsikah humas itu? Berikan penjelasan teoritis


Berdasarkan teori dialogis, menurut saya kuranglah tepat untuk menolak memberikan informasi apapun kepada public. Dapat dikaitkan dengan teori Uncertainty Reduction Theory yang diciptakan oleh Charles Berger dan Richard Calabrese pada tahun 1975 ini menjelaskan tentang baganimana individu menggunakan komunikasi untuk mengurangi keragu-raguan, memahami orang lain dan diri individu itu sendiri, dan membuat prediksi tentang perilaku orang lain ketika berinteraksi dengan orang lain saat pertama bertemu (Kriyantono, 2014: 139). Pada dasarnya, tujuan komunikasi adalah untuk mengurangi ketidakpastian yang dirasakan oleh seorang individu mengenai lingkungan dan orang-orang disekitarnyaKarena pada dasarnya public membuthhkan informasi atau tanggapan perusahaan untuk menghindari adanya isu-isu dan ketidak jelasan yang akan menyebabkan rumor-rumor tidak terduga dan penolakan public. Tetapi dapat dikembalikan lagi kepada teori dialogis dimana organisasi tidak dapat dipaksakan untuk memberi segala tanggapan dan respon kepada public seperti yang pubic atau media mau. Dalam segi ini Humas tetap berfungsi karena pada dasarnya humas itu sendiri untuk memberikan tanggakapan dan brigde utama dimana seperti dijelaskan di teori Boundary Spanning. Bahwa sudah selayaknya humas menjadi jembatan komunikasi antara public dengan organsasi maupun perusahaan. Dalam praktik public relations, teori ini digunakan untuk meminimalisir adanya ketidakpastiaan publik terhadap suatu organisasi. Pada dasarnya, tugas public relations adalah menciptakan citra dan reputasi yang positif mengenai organisasi kepada publiknya (Kriyantono, 2014: 146). Informasi yang diberikan kepada publik haruslah legkap dan tidak boleh terpotong-potong karena informasi ini lah yang akan menentukan perilaku publik terhadap organisais. Apakah nantinya publik akan mendukung organisasi atau mungkin justru berlainan sikap dengan organisasi. Oleh karena itu, organisasi harus membantu publiknya untuk mngurangi ketidakpastian dengan lebih terbuka memberikan informasi (seld-disclosure), sehingga publik dalam keadaan berkecukupan informasi atau well informed (Kriyantono, 2014: 146). Namun apapun langkah yang di ambil oleh humas tersebut  harus mengenali situasi terlebih dahulu seperti yang sudah dijelaskan pada teori Situational Theory of The Publics atau yang biasa disingkat menjadi STP ini merupakan teori yang bermanfaat untuk mengidentifikasi publik, sehingga dapat membuat kategori publik dengan lebih spesifik berdasarkan perilaku komunikasi dari individu dan efek komunikasi yang diterima individu tersebut (Kriyantono, 2014: 152). Hal tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa pesan komunikasi yang disampaikan oleh praktisi public relations benar-benar sesuai dengan kebutuhan sasarannya. Publics yang dimaksud disini menyangkut beberapa kalangan seperti jurnalis, karyawan, investor, konsumen, pemerintah, atau komunitas lokal. Grunig (dikutip di Kriyantono, 2014: 152) membedakan istiah  antara publik dengan stakeholder. Sehingga dapat dikatakan bahwa publik merupakan bagian dari stakeholder.

Kasus 3

uSeorang wartawan melakukan wawancara dengan humas UB tentang terjadinya suatu kebijakan. UB membuat kebijakan baru, yaitu melarang mahasiswa merokok di areal kampus UB. Saat ditanya wartawan, humas UB menjawab: “Saya belum bisa memberikan jawaban sekarang.. Sy mesti meminta izin dulu ke pimpinan”.

uTugas anda:
efektifkah jawaban humas itu dalam konteks publisitas media? Mengapa?”
Berfungsikah humas itu? Berikan penjelasan teoritis


Berdasarkan teori Motivasi dan Manajerial. Pihak manajes MS dapa menggunakan teori tersebut, seperti yang telah d jelaskan oleh Kriyantono, Gaya kepemimpinan merupakan suatu hal yang penting pada organisasi karena suetu gaya kepemimpinan yang digunakan akan memengaruhi kerja anggota organiasinya. Oleh karena itu, majaner termasuk praktisi public relations harus memahami gaya mnajerial yang dilakukannya. Proses komunikasi pada teori inin juga dinggap suatu hal yang penting untuk memotivasi karyawan-karyawannya dalam hal pekerjaan. Seni memotivasi yang biasanya dilakukan oleh manajer ini juga pada dasarnya merupakan manajemen yang dilakukan oleh manajer agar orang lain melaksanakan apa yang dikehendaki oleh si manajer. Karena memotivasi saja tidaklah cukup dan perlu adanya controlling serta  aturan-aturan yang berlaku, maka dapat di alisansikan kepada teori teori yang juga berkesinambungan seperti teori Hirarki kebutuhan, dimana  beberapa tingkatan kebutuhan yang harus dipenuhi agar seseorang merasa terpuaskan, seperti kebutuhan fisiologi, kebutuhan keamanan dan keselamatan, kebutuhan sosial, kebutuhan akan penghargaan diri atau self-esteem, dan kebutuhan aktualisasi diri (Kriyantono, 2014: 243). Berdasarkan teori ini, karyawan atau anggota organisasi akan termotivasi kerja apabila semua kebutuhan tersebut disediakan oleh sang manajer. Tetapi pada setiap ekosistem proses menejerian memiliki gaya yang berbeda-beda, maka setiap organisasi akan memepunyai tipe atau gaya kepemimpinan yang berbeda-beda pula, Oleh karena itu, Doughlas McGregor (1967: dikutip di Kriyantono, 2014: 244) m3engenalkan dua macam teori tantang motivasi yang juga menentukan gaya menejerial seseorang, yaitu teori X dan teori Y. Teori X didefinisikan sebagai upaya untuk mengelola orang dengan memotivasi mereka sejak awal dengan kekuatan fisik dan kekuasaan (Quaal & Brown, 1976: dikutip di Kriyantono, 2014: 244). Teori X ini berasumsi bahwa pada dasarnya individu emmpunyai sifat yang tidak suka beekerja sehingga diperlukanlah motivasi tersebut.

Kasus 4
uSDA tiba-tiba muncul dalam kampanye Prabowo saat pilpres dan menyatakan secara terbuka mendukung Prabowo. Aksi SDA ini mendapat protes dari sejumlah anggota partai, baik di Dewan pimpinan pusat maupun di daerah. Ada yang menyebut aksi SDA sebagai pendapat pribadi dan tidak mewakili partai.

uSaat peresmian Gedung FISIP A dan B menjadi nama dua professor, muncul berbagai reaksi, baik dari mahasiswa, staf maupun dosen. Ada yang mengatakan: “lho darimana ide itu? Siapa yg memprakarsainya? Apa dasarnya? Wah.. Biasanya nama gedung diambil dari mereka yg sdh berpulang, hayo siapa yang berani menempati professor X?...
uTugas Mahasiswa:
- Menjelaskan secara teoritis, respon terhadap peristiwa di atas? Kesalahannya di mana?


A.            Strategi komunikasi dibutuhkan Public Relations dalam menghadapi krisis perusahaan. Teori Image Restoration didasarkan pada asumsi komunikasi yang menjadi titik awal Teori Image Restoration berjalan. Menurut Blaney, Benoit, & Brazel (2002) dalam Kriyantono (2014) ada dua asumsi komunikasi yang menjadi dasar Teori Image Restoration yaitu komunikasi dilakukan dengan memiliki tujuan tertenu dan komunikasi menjadi strategi utama untuk menjaga citra dan reputasi perusahaan agar tetap baik dimata publik. Asumsi komunikasi yang sudah dijelaskan berfungsi sebagai awal untuk memperbaiki citra dan reputasi perusahaan saat krisis perusahaan melanda. Krisis perusahaan yang terjadi membuat Public Relations harus memikirkan strategi komunikasi yang baik. Namun jauh sebelumitu mengingat terdapat pandangan public yang kurang baik terhadap SDA maka dapat digunakan pula teori Apologia.

B.            Dalam kasus tersebut dapat dikaitkan dengan teori strukturaliasi dimana dalam setiap interaksi sesosial. Individu membetuk suatu realitas yang di dialamnya terdapat norma dimana masing-masing individu memiliki peran masing-masing dalam berinteraksinya atau dapat dikatakan animal social oleh Willis (2007:49). Dalam teori strukturasi, terdapat beberapa asumsi pokok mengenai teori tersebut menurut Giddens (1979: dikutip di Kriyantono, 2014: 237), yaitu:
·         Manusia adalah aktor (agen) yang menentukan pilihan sendiri atas perilakunya.
·         Organisasi diproduksi dan direproduksi melalui struktur yang dalam hal ini adalah penggunaan aturan dan sumber saya dalam interakri sosial.
·         Struktur bukanlan entitas fisik, melainkna merupakn seperangkat peraturan (rule) dan sumber daya (resources) yang digunakan organisasi untuk mencapai tujuannya.
·         Karena struktur bersifat dinamis, maka struktur dalam organisasi bukan hanya dibentuk pada awalnya saja (prouced), melainkan juga mengalami proses pembentukan kembali (mengalami perubahan atau reproduced).
·         Struktur sering dipinjam dari kelompok yang lebih besar.
·         Teori strukturasi mengasumsikan bahwa semua interaksi sosial (proses strukturasi) memuat tiga elemen, yakni pemaknaan (interpretasi dan pemahaman), moralitas, dan kekuasaan.
Komunikasi berperan sebagai media interaksi dan juga merupakan hasil interaksi. Oleh karena adanya teori tersebut, tak heran jika ada perasaan tidak enak atau tidak semestinya dalam pengisian posisi professor tersebut. Jika dikatakan terdapat letak kesalahan. Saya beranggapan bahwa letak kesalahan itu sendiri tergantung pada setiap presepsi individu itu sendiri dan pendalaman setiap realitas-realitas norma dalam strukturalisasi tersebut.

Kasus 5
uPT Hidup Sejahtera (HS) adalah perusahaan dengan produk asuransi jiwa. Perusahaan ini adalah perusahaan besar. Tetapi, ternyata kalah dengan perusahaan Besar Sekali (BS) yang berada di sebelahnya. BS bergerak di bidang jasa catering. BS sering mendapat liputan media.
Jelaskan:
Apa yg hrs dilakukan HS?

Pada kasus ini menurutnya langkah yang dapat di ambil oleh perusahaan HS adalah mematangkan pada beberapa teori. Seperti teori sistem yang dilamnya terdapat teori Relationship Management. Dimana teori ini membahas bagaimana teori ini terkait dengan fungsi dasar public relations, yaitu aktivitas komunikasi yang menghubungkan organisasi dan publik (Kriyantono, 2014: 276). Ledingham (2005; Botan & Hazleton, 2006; dikutip di Kriyanotno, 2014: 276) mengatakan bahwa teori ini berfokus untuk membahas proses manajemen relasi antara organisasi dan publiknya, internal maupun eksternal, sehinga teori ini dikenal sebagai pusat atau inti dari public relations. Kemudian dapat dimantapkan dengan teori Model Press Agentry/Publisitas. Yang mana model ini merupakan model yang menggunakan komunikasi satu arah (one-way communication) dari organisasi kepada publiknya. Pada model ini, praktisi public relations lebih banyak melakukan propaganda atau kampanye untuk tujuan publisitas media yang menguntungkan pihaknya, karena pada dasarnya, press-agentry ini merupakan kegiatan publisitas, yaitu upaya meraih perahatian dan liputan media (Kriyantono, 2014: 90). Tetapi, model ini sering disalahgunakan denganberbagai cara yang salah satunya adalah “pseudo-event” yang dibuat untuk mengabaikan kebenaran informasi sebagai upaya untuk menutupi unsur negatif organisasi atau individu (Kriyantono, 2014: 91). Dapat juga digunakan pada teori Model Public Information yang juga menggunakan komunikasi satu arah seperti model press-agentry. Model public information ini digagas oleh Grunig & Hunt (1984: dikutip di Kriyantono, 2014: 93), setelah terinspirasi oleh salah satu pionir public relations yaitu Ivy Leadbetter Lee diawal abad ke-20. Tujuan model ini yaitu untuk membangun kepercayaan publik melalui komunikasi satu arah dengan memberikan informasi kepada publik, tetapi tidak mementingkan persuasif untuk merubah sikap (Grunig & Hunt, 1984: dikutip di Kriyantono, 2014: 93). Biasanya, organisasi yang mengunakan model ini cenderung untuk memberikan informasi mengenai organisasinya (termasuk produk dan jasa) tanpa memerdulikan feedback dari publiknya.